
Landasan teoretik tentang
peran teknologi dan media pada abad 21. Ada tiga penjelasan
teoretik tentang peran teknologi dan media pada abad 21, yaitu teori
diterminisme teknologi, diterminisme sosial, dan teori mediatisasi.
Pertama, menurut asumsi diterminisme
teknoloigi Pendekatan determinisme teknologi memposisikan teknologi sebagai
faktor dominan dan berpengaruh dalam mengubah perilaku komunikasi warga
masyarakat. Hadirnya pembelajaran hibrida yang sebagian memanfaatkan e-learning
sebagai pola pembelajaran online dianggap sebagai penentu bagaimanakah perilaku
belajar peserta didik. Hal ini akan mengakibatkan ’pemaksaan’ pada peserta
didik, sehingga mereka harus mengikuti pola yang telah ditetapkan oleh
teknologi yang digunakan dalam proses belajarnya. Model web-based learning yang
dikendalikan oleh platform yang dipilih oleh sebuah mata kuliah, termasuk dalam
pendekatan deterministik teknologi ini. Dalam abad 21 ini, argumen diterminisme
teknologi dan efek media ini sesuai dengan asumsi cyber optimis. Fakta
menunjukkan bahwa sekarang ini antusiasme belajar berbasis TIK cukup tinggi.
Antusiasme guru, murid, dan satuan pendidikan yang begitu tinggi terhadap
kehadiran pendidikan era digital ini mengindikasikan adanya kesesuaian dengan asumsi
kubu cyber optimis. Situasi optimistic ini juga ditunjukkan oleh pemerintah
yang sangat yakin bahwa dengan digitalisasi pendidikan akan mampu menciptkan
generasi era 21 yang sering disebut sebagai generasi emas. Oleh karena itu
pemerintah sangat yakin bahwa dengan teknologi akan membawa berkah bagi
pengembangan sumber daya manusia Indonesia melalui proses pembelajaran dan
pendidikan pada umumnya.
Kedua, mengikuti pandangan diterminisme
sosial, yang memandang bahwa kehendak dan keputusan masyarakat atau individulah
yang menentukan efek-efek yang timbul dari kehadiran TIK. Pada dasarnya TIK
merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, yaitu sebuah hasil konstruksi
rekayasa masyarakat, bukan sebuah fenomena yang terpisah dari konteks sosial.
Determinisme sosial merupakan proses yang mutual yang menempatkan perkembangan
TIK dan praktek sosial saling menentukan kehidupan sosial itu sendiri
(Lievrouw, 2006). Jadi bukan TIK yang menentukan pola interaksi masyarakat,
tetapi kebutuhan komunikasi masyarakatlah yang menghadirkan teknologi tersebut
sebagai sarana komunikasi mereka. Kebutuhan belajar yang tidak dapat dipenuhi
oleh pembelajaran tradisional berbasis tatap mukalah yang menentukan kehadiran
pembelajaran online, sebagai salah satu metode pembelajaran hibrida. Arnold
Pacey berpendapat bahwa kita akan lebih dapat memahami dalam melihat hadirnya
teknologi dengan menyatukan antara pandangan bahwa teknologi itu bebas nilai (value
free) dan teknologi itu juga berkaitan dengan nilai-nilai kultural. Teknologi
sebaiknya dilihat sebagai aktivitas manusia dan sebagai bagian dari kehidupan
manusia. Tidak hanya melihatnya sebagai mesin, teknik, dan pengetahuan saja
tetapi juga perlu pelibatan karakteristik pola-pola organisasi dan nilai-nilai
yang diyakininya (Pacey, 2000:4). Oleh karena itu, e-learning tidak hanya
dilihat dari perspektif determinisme teknologi, tetapi juga dilihat dari sudut
pandang determinisme sosial. Ini juga menganjurkan bahwa melihat teknologi tidak hanya dari
definisinya saja, tetapi juga prakteknya. Teknologi dapat dibedakan antara
”teknologi” sebagai artefak yang memungkinkan manusia mengontrol lingkungan dan
”technology-practice” sebagai artefak yang melekat di dalam organisasi dan
gagasan-gagasannya. Sifat negatif teknologi dapat hadir bukan karena kesalahan
artefaknya, tetapi karena kesalahan dalam technology-practice-nya. Teknologi
ketika dilihat sebagai artefak, maka teknologi adalah netral.
Ketiga, pandangan teori mediatisasi yaitu
sebagai proses dinamis dalam hubungan antara keberadaan media di tengah
masyarakat yang bersifat insitusional. Di sini media yang mulanya merupakan
hasil temuan ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian berkembang menjadi
institusi sosial, yang kemudian juga terlibat dalam pergulatan hubungan dengan
institusi sosial lainnya. Karena itu Hjarvard memahami mediatisasi dengan ciri
utama: pertama, media telah berkembang menjadi institusi otonom dan indipenden
terhadap masyarakat. Kedua, pada saat yang sama ketika media tampil sebagai
institusi indipenden, media kemudian menjadi lebih terintegrasi dengan
institusi sosial lainnya. Media massa, media interaktif, dan kombinasi keduanya
telah menjadi sesuatu yang lumrah, yakni sebagai komponen niscaya bagi
kehidupan sehari-hari seperti pendidikan, politik, kehidupan keluarga dan
agama.
0 Comments